1 / 1

SSSTT … ADA IBNU JAMIL DI KRAYAN

Ibnu Jamil : 6 hari 6 malam Menembus Jalan Malinau – Krayan, baru kali ini saya main sepeda sampai nangis

News Update – Ibnu Jamil, aktor dan pembawa acara televisi terkemuka ini beserta timnya Jamilo’s Journey menembus hutan belantara dari Malinau ke Krayan dengan menggunakan Sepeda Motor Trail. Tim Jamilo’s Journey ini menghabiskan waktu 6 hari 6 malam untuk bisa melalui jalanan terjal, berbatu, berlumpur dalam keheningan tanpa satupun bertemu orang lain.

Kepada Kasubbag Humas Setda Nunukan Redemptus D.T dan tim Warta Humas, pada Senin (22/02) dari Long Bawan Ibnu Jamil mengisahkan perjalanan, kesan dan harapannya dalam sebuah wawancara singkat via sambungan telpon, apa sajakah isi percakapan tersebut ? berikut isi wawancara tersebut :

* ceritanya bagaimana ini bang pertama – tamanya, awalnya kok bisa terbersit pemikiran mau membuka jalan / mengikuti jalan dari malinau ke krayan, kalau boleh diceritakan sedikit ?

Ceritanya begini, saya kan memang satu tahun belakangan ini, sejak tahun 2020 tepatnya saya punya Vlog. Nah … Vlog-nya saya itu adalah saya ber-adventure dengan motor. Setelah itu ada yang tertarik, salah satu produk minuman kopi tertarik untuk mensponsori, oke saya bikin konten ber-adventure, awalnya hobby – hobby.

Terus tahun 2021 ini saya pengen sesuatu yang beda aja gitu loh, apa ini, jangan sekedar main motor doang ini masuk hutan, tapi kita harus mencari sesuatu main motor masuk hutannya apa, jalurnya kenapa harus kesitu, itu harus kuat.

Nah … saya bukalah media sosial saya, minta sharing sama Followers saya, saya harus kemana nih ?. Terus ada salah satu anak yang bilang : Bang … cobain ke tempat saya dong, Krayan, abang kan suka adventure, saya ini suka ngeliat video video abang.

Oke … saya hubungi dia, kenapa harus Krayan, Krayan ada apa, Krayan ada ini, ada garam gunung, ada ini ada itu, oh … saya tertarik, terus ditambah lagi ini kan perbatasan Indonesia – Malaysia .. Wah … keren tuh… oke … kita browsing ternyata aksesnya itu memang keras banget, masih kasar. Itu hutan – hutan yang memang tidak terdeteksi sama google Map.

Nah … Jadi anak – anak Adventure bilang get lost, get lost itu ya itu. Okelah kita pilih Krayan, dengan jalur seadanya. Nah …. setelah itu kita kumpul informasi, ternyata Krayan itu adalah yang pernah disinggahi sama Jokowi yang menjajal aspalnya Krayan. Kita survey lagi ternyata itu aspalnya cuma 30 kilo.

Pas kita tanya – tanya lagi setelah sampai di Krayan, ya kita mendengarlah curahan – curahan hati dari warga Krayan, keinginan mereka dengan harapan untuk adanya fasilitas jalan ini segera terbuka. Oh … kita baru tahu disitu, jadi terbukalah mata kita ini daerah masih terisolir.

Apalagi kemarin ketergantungan dengan Malaysia masih cukup tinggi dan sekarang Malaysia lagi Covid jadi Lockdown, nah … barang – barang lagi sulit, wah … ini jadi semakin menarik buat kita untuk kita bisa kenalan sama Krayan, gitu.

Jadi seru saja buat saya sendiri perjalanan adventure saya dengan motor bersama tim ini nggak cuma sekedar bermain motor tapi saya bisa mengenal Indonesia lebih dalam lebih luas sampai ke pelosok – pelosok.

* Kalau perjalanannya sendiri berapa lama bang dari Malinau ke Krayan Tengah ?

Perjalanan itu total enam (6) hari enam (6) malam, kenapa enam hari enam malam karena kan kita harus ada pengambilan gambar, nggak cuma sekedar jalan terus. Jadi memang beberapa spot yang memang unik dan bagus kita abadikan, kita bikin konten disitu. Jadi makanya enam hari enam malam.

* Berapa personil bang ?

Kita cuma berlima, saya (Ibnu Jamil), om Gareng, Benny, Igor, dan Jerry. Jadi ada mekaniknya juga ada yang videografer sama fotografer. Ya .. totally kita sebenarnya kita mau pengen bikin Vlog aja untuk Channel Youtube saya sendiri.

* Setelah memasuki Krayan bang, apa kesan pertama yang dirasakan setelah melihat Krayan ?

Wah … saya baru kali ini main motor sampai nangis, karena saya selama enam hari enam malam di perjalanan Malinau – Krayan saya nggak ketemu orang satupun. Iya saya nggak ketemu orang satupun, jadi itu benar – benar kosong.

Lebih tepatnya Semamu, dari Semamu sampai Krayan saya nggak ketemu orang satupun. Jadi kita itu selama berhari hari disitu ketemunya suara burung, suara monyet, sudah itu saja.

Nah … pas begitu saya masuk ke wilayah Krayan Tengah itu kita ketemu orang namanya pak Kelvin, saya ingat sekali, dia yang membantu kita, menolong kita dan kita dikasih nginap di rumahnya, disitulah kita nangis .. wah akhirnya kita ketemu orang karena memang jalurnya yang dahsyat luar biasa ekstrim.

Ekstrim banget jalurnya, karena buat saya kalau itu mau dijadikan jalur untuk umum itu sangat curam dan sangat ekstrim, jadi nggak layak, tepatnya di gunung Selukut, Gunung Selukut itu tanjakannya kita namakan tanjakan Jamilo karena kita orang pertama di luar Krayan yang berhasil menembus Malinau – Krayan, orang Jawa pertama di pulau jawa dan orang Jakarta pertama kita, kita tim Jakarta pertama. Bahkan orang Kalimantan lain yang di luar Krayan sendiri belum ada yang pernah menembus itu kecuali orang Krayan sendiri.

* Jadi sangat berkesan ya bang ?

Wah .. berkesan sekali, makanya kita disini (di Krayan) nggak ada habis habisnya disambut karena mereka menganggap kita ini luar biasa berani sekali. Dari Jakarta jauh – jauh cuma pengen masuk Krayan lewat darat, biasanya orang masuk Krayan lewat pesawat, kita lewat darat. Sedangkan orang Krayan sendiri belum semuanya itu pernah nyobain jalan darat dari Krayan ke Malinau.

* Begitu abang melihat Krayan, kira kira di benak pemikiran abang kira kira sebenarnya Krayan ini apa yang bisa dikembangkan potensinya bang ?

Waduh … banyak banget. Pemandangan dengan alam yang indah, dengan kebudayaannya yang kaya, dengan pertaniannya yang sangat luar biasa, ini harusnya layak untuk dijadikan destinasi, tempat untuk berlibur.

Tapi.., balik lagi akses disini masih sulit, hanya melalui udara dan itu sebenarnya ya terlalu banyak transit, jadi agak jauh. Tapi kalau membayangkan jalur itu sudah diaspal semua ini akan bisa menjadi destinasi buat orang – orang yang suka akan travelling menggunakan mobil atau kendaraan roda dua.

Jadi Road Trip, kita bisa menikmati pemandangan – pemandangan hutan Kalimantan yang masih asri, negeri diatas awannya banyak banget, wah sangat .. ini kayak New Zealand -nya Indonesia-lah.

* Pertanyaan terakhir sebelum ditutup, Pemerintah Pusat kalau tidak salah sudah menganggarkan pembangunan dari Krayan ke Malinau, hanya masih lama bang, mungkin sekitar 2024 atau 2023, harapan abang sendiri bagaimana bang untuk kedepannya apabila jalan dari Malinau ke Krayan mulai terbuka ?

Gini … pertanyaan saya, proyek ini nggak akan pernah selesai kalau nggak dikerjakan. Karena saya lihat kemarin selama jalan sama teman dan tim sepanjang enam hari enam malam tidak ada satupun orang yang mengerjakan proyek itu. Alat alat berat-pun tidak ada yang beroperasi disana, artinya itu tidak dikerjakan dan tidak akan pernah selesai, ada target 2024, 2023 itu akan jadi .. kalau saya bilang itu akan jadi omong kosong kalau tidak dikerjakan.

Tapi kalau dikerjakan itu sebenarnya bisa cepat, lebih cepat asal memang orang – orang yang berkuasa disana fokus, berapapun anggarannya.

Mungkin pemerintah dulu itu sudah menganggarkan tapi kita ndak tahu ini, karena saya kan bukan orang pemerintahan dan saya juga bukan orang politik. Saya nggak mau main di area sana, tapi balik lagi saya sebagai masyarakat dan warga sipil saya cuma bilang kalau itu nggak pernah dikerjakan nggak akan pernah selesai, mau siapapun presidennya.

Jadi buat saya kalau di era-nya Jokowi sekarang ini mengambil karya sesuatu buat Krayan .. lakukanlah itu, Karena Krayan adalah bagian dari Indonesia.

Seusai wawancara, Ibnu Jamil juga berjanji akan menyampaikan menceritakan pengalaman berharganya ini kepada seluruh teman dan koleganya saat kembali ke Jakarta untuk memberi gambaran bagaimana indahnya Krayan yang belum banyak orang ketahui.

Ibnu Jamil bersama Tim Jamilo’s Journeynya ini akan kembali ke Tarakan dengan menggunakan pesawat udara dari Bandara Yuvai Semaring Long Bawan – Tarakan dan selanjutnya ke Jakarta, pada Selasa (23/02), sedangkan motor yang mereka bawa dari Jakarta dan digunakan melintas Malinau – Krayan direncanakan ditinggalkan dan dijual di Long Bawan. (Humas/Diskominfotik).

Bagikan ke...

Meirita Syaputri

Comments

X