1 / 1

Setidaknya, Ada Sedikit Harapan Disini…

WARTA HUMAS – Sambil bersandar di teras rumah sederhananya yang terbuat dari kayu, Syahrial berusaha mengenang kembali suasana di kampung lamanya yang sudah hampir 5 tahun ditinggalkan. Banjir yang terlalu sering merendam rumah – rumah di Desa Lubakan, Kecamatan Sembakung, telah memaksa Syahrial dan setidaknya 80 kepala keluarga untuk pindah ke lokasi yang lebih tinggi dan aman.

“Kampung itu sekarang tinggal kenangan, tidak ada lagi yang tinggal di sana. Sesekali kami pergi melihat tapi habis itu pulang lagi,” kata Syahrial sambil sesekali menghisap dalam – dalam rokok yang terselip di jarinya.

Pilihan untuk pindah, menurutnya, bukan pilihan yang mudah. Bagaimanapun, kampung itu telah menyimpan berjuta kenangan bagi para penghuninya. Meskipun sudah puluhan tahun selalu merasakan banjir, bahkan meski di musim kemarau sekalipun kampung itu selalu acap (tergenang air), tapi tawaran untuk pindah selalu di anggap angin lalu.

Sebagai sebuah perkampungan – meskipun tergolong kampung kecil – Desa Lubakan memiliki fasilitas publik yang cukup lengkap, mulai dari sekolah SD, SMP, masjid, puskesmas pembantu, dan lapangan olah raga.

Tapi karena keadaan yang memaksa, semua itu harus rela ditinggalkannya demi sebuah harapan. Iya, harapan. Kata itulah yang akhirnya menyadarkan puluhan warga di kampung itu hingga akhirnya mau direlokasi, pindah ke lokasi yang baru yang berjarak sekitar 6 kilometer dari Atap, Ibukota Kecamatan Sembakung, atau sekitar 10 menit perjalanan dengan menggunakan perahu.

Relokasi memang sebuah pilihan yang amat sulit, karena artinya semua harus dimulai lagi dari nol. “Memang berat, tapi apa boleh buat di sana tidak ada masa depan, kasihan anak – anak nanti,” ujarnya.

Akhirnya, jadilah puluhan warga itu memulai lagi membangun rumah – rumahnya yang baru di pinggir kanal buatan yang terhubung dengan Sungai Sembakung. Jarak antar rumah hanya sekitar 4 meter, dan semuanya seragam menghadap ke arah kanal.

Tidak ada listrik, tidak ada jalan darat menuju Desa Atap, lingkungan yang baru tersebut juga masih dikelilingi hutan yang lebat. Tetapi mereka tidak menyerah, pilihan sudah dijatuhkan, maka resiko apapun harus siap dihadapinya.

Pelan tetapi pasti, mereka pun mulai bisa menyesuaikan diri dengan lingkunganya yang baru, yang meskipun penuh dengan keterbatasan, tapi minimal sudah terbebas dari banjir yang selama ini seolah sudah menjadi santapan harian.

Kini, setelah hampir 5 tahun, Desa Lubakan (yang baru) sudah bisa dijangkau dengan menggunakan motor dan mobil dari Atap. Pemerintah telah membuka akses jalan menuju kampung itu, meskipun kondisinya masih berupa timbunan tanah merah.

Nasib mereka memang belum terlalu banyak berubah, tapi minimal di kampungnya yang baru, ada sedikit harapan untuk digapai, minimal oleh anak – anak mereka nanti.

“Kampung itu sekarang tinggal kenangan, tidak ada lagi yang tinggal di sana. Sesekali kami pergi melihat tapi habis itu pulang lagi,” kata Syahrial sambil sesekali menghisap dalam – dalam rokok yang terselip di jarinya.

Meskipun tidak terlalu berharap kepada pemerintah, tapi Syahrial dan puluhan warga disitu menyimpan sebersit mimpi Kampung Lubakan kelak bisa menjadi ramai, jalanan menuju kampung itu bisa diaspal, dan anak – anaknya bisa sekolah tinggi seperti anak – anak di kampung yang lain. Sebuah impian yang sangat sederhana. (HUMAS)

Administrator

Comments